Rabu, 18 Februari 2009

DARAH 1


BAB 1

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Darah adalah jaringan penyambung khusus yang terdiri atas sel-sel dan banyak interstitial ekstrasel terdiri atas sel-sel dan cairan yang mengisi sirkulasi tertutup yang mengalir dalam gerak teratur tanpa arah, didorong terutama oleh kontraksi ritmis jantung. Darah dibentuk dari dua bagian: bentuk elemen, atau sel-sel darah dan plasma darah, fase cair dimana yang petama tersuspensi. Bentuk elemen adalah eritrosit, atau sel darah merah, trombosit, dan leukosit atau sel darah putih. (Junqueira, 1995).
Jika terjadi pendarahan, pembekuan darah harus segera terjadi demi mencegah kematian. Di samping itu, darah beku tersebut harus menutupi keseluruhan luka, dan yang lebih penting lagi, harus terbentuk tepat hanya pada lapisan paling atas yang menutupi luka. Jika pembekuan darah tidak terjadi pada saat dan tempat yang tepat, maka keseluruhan darah pada makhluk tersebut akan membeku dan berakibat pada kematian. Keping darah atau trombosit, yang merupakan unsur berukuran paling kecil penyusun sumsum tulang, sangat berperan dalam proses pembekuan darah (Racoen, 2007).
Disamping mempunyai kemampuan untuk membuat antibodi sebagai respon terhadap antigen asing, dan dalam beberapa jenis penyakit sebagai respon terhadap jaringan tubuh kita sendiri, dalam keadaan normal beberapa antigen dan antibodi selalu terdapat didalam darah kita zat-zat ini adalah faktor-faktor golongan darah. Faktor ABO ditemukan pada waktu perang dunia I, ketika transfusi sering dilakukan. Beberapa individu mempunyai antigen A, beberapa mempunyai antigen B, beberapa mempunyai antigen A dan B, sedang beberapa lagi tidak mempunyai kedua antigen tersebut. Antibodi yang terdapat secara alamiah (aglutinin) yang spesifik untuk aglutinogen ini dan disebut a dan b dapat ditemukan dalam plasma (Barnes, 1988).

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
a. Membandingkan sel darah merah dari bebrapa jenis hewan
b. Menghitung kadar Hb (hemoglobin)
c. Menentukan waktu beku darah
d. Menentukan penggolongan darah manusia dengan system ABO

























BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Eritrosit

Sel-sel darah merah atau eritrosit (bahasa Yunani: Eritro = merah, sit = sel) adalah sel-sel yang diameter rata-ratanya sebesar 7,5µ, dengan spesialisasi untuk pengangkutan oksigen. Adanya hemoglobin didalam eritrosit memungkinkan timbulnya kemampuan untuk mengangkut oksigen, serta menjadi penyebab timbulnya warna merah pada darah. Dari segi kimia, hemoglobin merupakan suatu senyawa organik yang kompleks yang terdiri dari empat pigmen merah (heme), masing-masing mengandung atom besi ditambah globin, yang merupakan protein globular yang terdiri dari empat rantai asam-asam amino. Hemoglobin menggabung dengan oksigen udara yang terdapat didalam paru, hingga terbentuklah oksi hemoglobin, yang selanjutnya melepaskan oksigen itu ke sel-sel jaringan didalam tubuh. Kerena adanya hemoglobion darah dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak dibandingkan dengan air dalam jumlah dan kondisi yang sama (Frandson, 1986).

Bentuk eritrosit mamalia dewasa tidak berinti, berbentuk cawan bikonkaf. Ukuran serta kedalaman bentuk konkaf berbeda untuk semua jenis. Pada anjing, sapi dan domba, bentuk konkaf sedang, tetapi pada kuda dan kucing konkafnya agak datar. Pada babi dan kambing, eritrosit berbentuk cawan datar. Bentuk eritrosit di pertahankan oleh sejenis protein kontraktil, dekat plasmalema dan terkait membentuk selaput inti utuh yang di sebut spektrin. Kelembutan serta plastisitas di sebabkan oleh matriks koloid yang memungkinkan perubahan bentuk selama ada dalam pembuluh darah sampai yang paling kecil (kapiler) tanpa menyebabkan robek atau pecahnya membran plasma. Bila setetes darah segar di taruh pada kaca sediaan, permukaan sel akan saling melekat sehingga merupakan tumpukan uang logam. Struktur yang kompleks tidak hanya menentukan bentuk eritrosit, tetapi juga sifat fisiologis dasar yang dimilikinya. Membran plasma bersifat permeabel terhadap air, elektrolit dan beberapa polisakarida, tetapi tidak untuk hemoglobin. Karenanya osmolaritas eritrosit ditentukan oleh hemoglobin. Osmolaritas plasma darah sama dengan eritrosit, maka eritrosit dan plasma darah bersifat isotonik satu sama lain (Delmann & Brown, 1992).

Darah merah manusia memiliki kandungan karbohidrat dan protein yang berbeda-beda, baik dalam sel darah merah maupun pada plasma (darah merah terdiri dari sel darah merah dan plasma tempatnya "mengambang"). Protein dalam Sel darah disebut aglutinogen, sementara protein dalam plasma disebut aglutinin. Aglutinogen memiliki dua jenis yaitu A dan B, begitu juga aglutinin memiliki jenis a dan b. Golongan darah A jika mengandung aglutinogen A di sel-selnya dan aglutinin b di plasma-nya. Golongan darah B jika mengandung aglutinogen B di sel-selnya dan aglutinin a di plasmanya. Golongan darah AB jika mengandung aglutinogen A dan B di sel-selnya dan tidak memiliki aglutinin di plasmanya. Golongan darah O jika tidak memiliki aglutinogen di sel-selnya dan memiliki aglutinin a dan b di plasmanya. Perbedaan inilah yang kemudian dikelompokkan menjadi penggolongan darah. Golongan darah yang dikenal adalah golongan darah ABO terdiri dari golongan darah O, A, B, dan AB. Dan penggolongan berdasarkan faktor Rh terbagi menjadi Rh+ dan Rh- (Mambo, 2009).

Eritrosit mamalia tidak mempunyai inti, dan pada manusia mereka merupakan cakram bikonkaf dengan garis tengah 7,2 µm. bentuk bikonkaf menyebabkan eritrosit mempunyai permukaan yang luas sehingga mempermudah pertukaran gas. Eritrosit dengan garis tengah yang lebih besar dari 9 µm dinamakan makrosit, dan yang mempunyai garis tengah kurang dari 6 µm dinamakan mikrosit. Eritrosit sangat fleksibel, dan sifat ini memungkinkan eritrosit beradaptasi terhadap bentuk ireguler dan garis tengah kapiler yang kecil. Penyelidikan Invivo menunjukkan bahwa bila melalui susut percabangan kapiler eritrosit dengan mudah berubah bentuk dan sering kali dianggap
menyerupai cawan. Konsentrasi normal eritrosit dalam darah sekitar 4,5-5 juta/ µL pada wanita dan 5 juta/ µL pada pria (Junqueira, 1995).
Faktor darah lainnya yang penting dalam transfusi adalah faktor Rh, terutama karena komplikasi yang dapat timbul jika terjadi inkopatibilitas, antara ibu dan fetus. Telah ditemukan pula banyak faktor yang terdapat secara ilmiah, tetapi zat-zat terebut tidak begitu penting dalam transfusi. Karena penurunan dari sebagian besar faktor itu sudah dapat ditentukan, maka ini merupakan hal yang penting dalam aspek kedokteran dan pengadilan untuk menentukan dari siapa asal setetes darah, penentuan orang tua dalam sengketa mengenai siapa bapak dari sorang bayi dan sebagainya. Ras yang berbea-beda mempunyai frekuensi golongan darah yang berbeda pula, tetapi arti biologis mengenai hal ini belum menarik banyak perhatian (Barnes, 1988).


2.2 Leukosit

Leukosit memiliki bentuk khas, nukleus, sitoplasma dan organel dan semuanya bersifat bergerak pada keadaan tertentu. Eritrosit bersifat pasif dan melaksanakan fungsinya dalam pembuluh darah, sedangkan leukosit mampu keluar dari pembuluh darah menuju jaringan dalam melaksanakan fungsinya. Jaringan seluruh leukosit jauh di bawah eritrosit, dan bervariasi tergantung dari jenis hewannya. Fluktuasi dalam jumlah leukosit pada tiap individu cukup besar pada kondisi tertentu. Jumlah leukosit yang menyimpang dengan keadaan normal mempunyai arti klinik penting untuk evaluasi proses penyakit. Lima bentuk leukosit berbeda dibagi dalam dua kelompok, yakni granulosit yang memiliki butir khas dalam sitoplasma dan agranulosit yang tidak memiliki butir khas dalam sitoplasma. Dari differensiasi penghitungan leukosit dapat di tentukan persentasi normal dari tiap jenis yang ternyata cukup berbeda. Ada tiga-tipe granulosit yang diberi nama berdasarkan sifat reaksinya terhadap zat warna tertentu. Leukosit eosinofil butirnya bersifat asidofil (berwarna merah dengan eosin). Leukosit basofil butirnya bersifat basofil
(ungu) dan Leukosit neutrofil butirnya tidak bersifat asidofil maupun basofil (Dellmann & Brown, 1992).

Sel darah putih atau leukosit (bahasa Yunani Leuko = putih) sangat berbeda dari eritrosit, karena adanya nukleus dan memiliki kamampuan gerak yang indenpenden. Masa hidup sel-sel darah putih (WBC = white blood cells) sel darah putih sangatlah bervariasi, mulai dari beberapa jam untuk granulosit sampai bulanan untuk monosit, dan bahkan tahunan untuk limfosit. Didalam aliran darah kebanyakan sel-sel darah putih bersifat non fungsional dan hanya diangkut ke jaringan ketika dan dimana dibutuhkan saja. Granulosit seperti tercermin dari namanya, mengandung granula didalam sitoplasma dan memberikan warna dengan pewarnaan bisa seperti pewarnaan Wright. Pewarnaan ini mengandung zat warna asam yaitu eosin (merah) dan zat warna dasar (metilen biru). Granulosit diberi nama sesuai dengan warna yang terdapat didalam granula. Nukleus granulosit kelihatan dalam berbagai bentuk sehingga diberi nama polimorponuklear leukosit (bahasa Yunani poli = banyak, morfo = bentuk). Penggunaan istilah leukosit polimorfonukleat lazimnya terbatas pada neutrofil saja (Frandson, 1986).

Berdasarkan granula spesifik pada sitoplasmanya seperti yang dilihat dalam mikroskop cahaya, sel-sel darah putih digolongkan dalam dua kelompok : granulosit dan agranulosit. Leukosit juga dapat dibagi dalam sel-sel polimorponuklear dan mononuclear dipandang dari morfologi inti. Selain itu, mereka dapat digolongkan sebagai sel-sel myeloid atau limfoid, tergantung dari asalnya. Granulosit mempunyai bentuk tidak teratur, dalam sitoplasma terdapat granula spesifik yang dinamakan neutrofil, eusinofil, basofil. Granula-granula sitoplasma ini mempunyai aktivitas terhadap zat warna spesifik yang menandai ketiga jenis ini. Jumlah leukosit per mikro liter (µL) darah pada orang dewasa normal adalah 4-11 ribu, waktu lahir jumlahnya berkisar anatar 15 dan 25 ribu, dan menjelang hari keempat jumlahnya turun sampai 12 ribu (Junqueira, 1995).

Agrunolosit tidak memiliki granula spesifik namun memiliki jumlah granula azurofilik bervariasi yang berikatan dengan pewarna azure dari pulsan. Inti berbentuk bulat atau berlekuk. Dalam kelompok itu termasuk limfosit atau monosit. Leukosit terlibat dalam pertahanan selular dan humoral dari organisme terhadap materi asing. Dalam keadaan tercampur dalam darah sirkulasi, leukosit tampak sferis, sel-sel yang tidak bergerak, tetapi leukosit mampu menjadi gepeng dan bergerak saat bertemu dengan suatu benda padat leukosit keluar dari kapiler dengan menerobos diantara sel endotel dan memasuki jaringan ikat. Populasi leukosit dalam jaringan ikat itu begitu besar sehingga dipandang sebagai unsur sel non-normal dari jaringan itu. Jumlah leukosit dalam darah bervariasi menururt umur, jenis kelamin, dan keadaan fisiologis. Pada orang dewasa, secara kasar leukosit berjumlah 6.0000-10.000 per mikroliter darah ( Junqueira, 1998).
.

2.3 Trombosit

Keping-keping darah (trombosit) adalah fragmen sel mirip cakram, tidak berinti dengan garis tengah 2-4 µm. trombosit berasal dari fragmentasi megakariosit poliploid raksasa yang ada disum-sum tulang. Trombosit memepermudah pembekuan darah dan membantu memperbaiki celah dan dinding pembuluh darah, mencegah hilangnya darah. Nilai normal trombosit berkisar dari 200.000 sampai 400.000 per mikroliter darah. Sekali trombosit masuk peredaran darah, maka trombosit mempunyai jangka hidup lebih kurang 10 hari. Trombosit mengandung suatu sistem saluran, yaitu sistem kanalikuli terbuka, yang berhubungan dengan invaginasi pada membran plasma trombosit. Menurut Junqueira (1998) peran trombosit dalam mengendalikan pendarahan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Agregasi primer, ketidak utuhan endotel, diakibatkan lesi pada pembuluh darah, diikuti oleh arbsorpsi protein plasma pada kolagen berdekatan.
2. Agregasi sekunder, trombosit pada sumbatan itu melepaskan isi granula alfa dan granula deltanya. ADP adalah perangsang kuat untuk agregasi trombosit.
3. Koagulasi darah, selama agregasi trombosit, faktor dari plasma darah, pembuluh darah yang rusak, dan trombosit memudahkan interaksi sekuensial dari lebih kurang 13 protein plasma, menghasilkan sebuah polimer, yaitu fibrin, yang membentuk jalinan serat tiga dimensi yang menangkap sel-sel merah, leukosit, dan trombosit untuk membentuk suatu bekuan darah, atau thrombus.
4. Retraksi bekuan, bekuan darah yang tadinya menonjol kedalam lumen pembuluh.
5. Darah berkerut karena adanya interaksi dari aktin, miosin trombosit, dan ATP.

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Perbandingan beberapa sel darah merah dari beberapa jenis darah hewan

Diambil satu tetes darah hewan (Bufo sp, Columba livia, Mus musculus, Cyprinus carpio, Mabouya sp), kemudian ditambahkan beberapa tetes larutan fisiologis (Nacl 0,95% dan dihomogenkan. Ditutup dengan cover glass dan diamati dibawah mikroskop, dibersihkan dengan jari manis dengan alkohol lalu tusuk dengan jarum frank. Kemudian tetesan darah pertama dibuang dan ditetes darah selanjutnya diletakkan diatas objek glass, dan ditambahkan beberapa tetes larutan fisiologis lalu amati bentuk dan struktur yang tampak dibawah mikroskop dan terakhir dibandingkan dengan sel darah hewan-hewan di atas.


3.3.2 Pembekuan darah

Jari manis dibersihkan dengan alkohol, ditusuk dengan jarum frank, tetesan pertama dibuang, kemudian dihisap dengan menggunakan pipa kapiler sampai pipa kapiler penuh dengan darah, kemudian dibekukan darah dengan cara membolak-balikkan pipa kapiler selama kurang lebih 15 menit, setelah darah beku pipa kapiler tersebut dipatahkan, kemudian diamati benang-benang halus atau hifa yang terdapat pada pembekuan darah tersebut. Dicatat lamanya waktu pembekuan darah.


3.3.3 Penentuan Hemoglobin

Jari manis dibersihkan dengan alkohol, ditusuk dengan jarum frank, tetesan pertama dibuang, kemudian dihisap dengan aspirator sampai batas angka 1,0 C. Ditambahkan aquadest sambil diaduk-aduk sampai warna darah sama dengan warna yang ada pada aspirator yaitu kuning keorangean, diamati kadar hemoglobin yang ada.


3.3.4 Penentuan golongan darah ABO

Jari manis dibersihkan dengan alkohol, ditusuk dengan jarum frank, diteteskan pada objek glass, kemudian ditambahkan aglutinogen A dan aglutinogen B, diamati perubahan yang terjadi, dan ditentukan golongan darahnya.

1.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang diperoleh dalam percobaan ini adalah:
Perbedaan eritrosit Homo sapiens dan beberapa jenis hewan vertebrata lainnya yaitu, Homo sapiens tidak mempunyai inti, bikonkaf, dan ukurannya lebih kecil. Sedangkan vertebrata lainnya memiliki inti dan bikonfeks.
Setelah dilakukan percobaan dapat diketahui golongan darah pada patner I terdapat 2 jenis golongan darah yaitu B dan O, yaitu Muhammad Asril, Dwi putri akarina, Resti fauziah, Risma Hayani, Ria windi Lestari dan Nasrianti Syam adalah bergolongan darah B. Sedangkan Ilhayatu Aini, Dwi Putri Ramadhani, Warysatul Ummah, dan Ria bergolongan darah O.
Adapun waktu yang dicapai dalam proses pembekuan darah adalah Muhammad Asril selama 13 menit 16 detik, Resti fauziah 14 menit 51 detik, dan Ilhayatu Aini selama 6 menit 36 detik.
Kadar hemoglobin yang diperoleh adalah untuk Risma Hayani 13 gr % sedangkan Muhammad Asril 16 gr %.
DAFTAR PUSTAKA


Dharma, R. 2007. Artikel Penilaian Hasil Pemeriksaan Hematologi Rutin. www.insight-magazine.com. Diakses tanggal 11 februari 2009

Darmawati, Efi S, & Edi S. 2005. Frekuensi dan Penyebaran Alel Golongan Darah ABO Siswa SMUN 1 sSuku Bangsa Melayu DI Kecamatan Rupat Kabupaten Bengkalis Riau. Jurnal Biogenesis. Vol. 1(2) hlm: 66-69

Dellmann, H. D, Brown, E. M, dan Hartono, R. 1992. Buku Teks Histologi Veteriner. Jakarta: UI-Press. hlm: 108-116
Frandson, D.R. 1986. Anatomi dan Fisiologi Ternak edisi ke empat . Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm : 408-409
Gavener. 1987. Anatomi Jilid I. Jakarta: UI-Press. hlm: 63
Isnaeni,W. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius. hlm: 173-175
Junqueira, L. C. 1995. Histologi Dasar Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.
hlm: 254-257
Junqueira, L. C. 1998. Histologi Dasar Edisi 8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.
hlm: 231,240-242
Mambo. 2007. Golongan Darah. http:// b0cah. Ogr- Koran Anak Indonesia. Diakses tanggal 4 Februari 2009
Racoen Ndoyo. 2007. Artikel Pembekuan Darah. www.insight-magazine.com. Diakses tanggal 9 Februari 2009



Senin, 09 Februari 2009

Cangak dan orangutan

Ini suatu hal yang sangat mengejutkan, seekor cangak singgah di USU. Tepatnya di perbatasan kantin dan unit 7 FMIPA USU. Burung air ini menyedot perhatian banyak orang, dengan paruh khas penangkap ikan dan kaki yang panjang, si cangak berdiri dengan gagah sembari memperlihatkan keanggunannya kepada para penonton.

Bukannya merasa terganggu, si cangak malah asyik-asyik aja berjalan dengan gaya militernya.
Aneh memang, tapi ini bukan bohong belaka. Sayangnya gambar si cangak gak bisa diabadikan, karena SKS yang menuntut dan panggilan praktikum yang harus terpenuhi...

Mungkin si cangak bakal menyempatkan diri lagi datang ke USU..
Dan dia datangnya jangan sendiri, kalau bisa sich ajak teman-temannya..




DAn ada satu hal yang menarik dari induk orangutan, dia gak bakal melepaskan anaknya yang sudah mati dari gendongannya, walaupun bangkai anaknya udah bau..
Si induk asik-asik aja gendong almarhum si anak, ampe bangkainya udah kering atau udah gak layak untuk di gendong lagi, baru deh dilepas...
Emang aneh ya..
Tapi pepatah kasih ibu sepanjang masa, agaknya harus berlaku pada si orangutan...

Suksesi Tumbuhan

I.1. Latar Belakang

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam komunitas dapat dengan mudah diamati dan seringkali perubahan itu berupa pergantian satu komunitas oleh komunitas lain. Dapat kita lihat misalnya pada sebidang kebun jagung yang setelah panen ditinggalkan dan tidak ditanami lagi. Disitu akan bermunculan berbagai jenis tumbuhan gulma yang membentuk komunitas. Apabila lahan itu dibiarkan cukup lama, dalam komunitas yang terbentuk dari waktu ke waktu akan terjadi pergantian komposisi jenis (Resosoedarmo,1990).

Pada masa awal dapat saja komunitas yang terbentuk tersusun oleh tumbuhan terna seperti badotan, rumput pahit, rumput teki, dan sebagainya. Tetapi beberapa tahun kemudian di tempat yang sama, yang terlihat adalah komunitas yang sebagian besar tersusun oleh tumbuhan perdu dan pohon seperti kirinyu, senduduk, laban, dan sebagainya, atau dapat pula hanya terdiri atas alang-alang. Bila tidak terjadi gangguan apa pun selama proses tersebut berjalan akan terlihat bahwa perubahan itu berlangsung ke satu arah (Irwan, 1992).

Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah secara teratur disebut suksesi. Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem yang disebut klimaks. Dikatakan bahwa dalam tingkat klimaks ini komunitas telah mencapai homeostatis. Ini dapat diartikan bahwa komunitas sudah dapat mempertahankan kestabilan internalnya sebagai akibat dari tanggap (respon) yang terkoordinasi dari komponen-komponennya terhadap setiap kondisi atau rangsangan yang cenderung mengganggu kondisi atau fungsi normal komunitas. Jadi bila suatu komunitas telah mencapai klimaks, perubahan yang searah tidak terjadi lagi ( Resosoedarmo,1990).


I.3. Tujuan Percobaan

Adapun tujuan dari percobaaan ini adalah :

- Untuk mengetahui jumlah spesies yang tumbuh pada suksesi

- Untuk mengetahui jenis spesies

- Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi suksesi


I.4. Hipotesis

Proses suksesi dari lahan garapan dalam kurun waktu yang pendek dikarenakan bila komunitas asal terganggu, baik secara alami maupun buatan.

I.5. Manfaat

Adapun manfaat percobaan ini adalah untuk mengetahui perlakuan yang mengakibatkan terjadinya suksesi, seperti penggundulan, migrasi kompetisi dan lain- lain dan untuk mengetahui tahap- tahap suksesi tumbuhan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Seorang ahli biologi menyatakan bahwa suksesi adalah perubahan yang terjadi pada suatu ekosistem yang berlangsung bertahap- tahap dalam waktu yang lama. Namun yang dianut oleh ahli- ahli ekologi sekarang adalah pandangan yang mengatakan bahwa suatu komunitas adalah merupakan suatu gabungan dari beberapa organisme. Organisme dalam suatu komunitas saling berhubungan, karena melalui proses- proses kehidupan yang saling berinteraksi. Lingkungan disekitarnya sangat penting karena mempengaruhi kehidupan organisme. Jika organisme tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, maka akan berakibat fatal bagi organisme itu. Misalnya, tanah penting untuk tumbuhan hidup karena mengandung mineral juga merupakan media bagi air dan sebagai tempat tumbuhnya akar. Sebaliknya tanah juga dapat dipengaruhi oleh tumbuhan, dapat mengurangi jumlah mineral dalam tanah dengan akar- akar tanaman yang menembus tanah yang hanya mengandung beberapa zat organik (Irwan, 1992).

Para ahli biologi mencoba memberi nama pada berbagai komunitas. Nama ini harus dapat memberikan keterangan mengenai sifat komunitas itu. Mungkin cara yang sederhana adalah memberi nama dengan menggunakan kata-kata yang dapat menunjukkan bagaimana wujud komunitas itu. Kebanyakan orang dapat membayangkan apa yang dimaksud jika kita berbicara mengenai “hutan” atau “padang rumput”. Nama ini menunjukkan bentuk dan wujud komunitas ini dalam keseluruhannya. Sering kali di dalam suatu komunitas terdapat satu atau dua tumbuhan dalam jumlah yang banyak, sehingga tumbuhan ini merupakan wujud yang khas daripada komunitas ini. Organisme yang memberi wujud khas kepada suatu komunitas dinamakan suatu spesies dominan dalam komunitas ini (Sastrodinoto, 1980).

Menurut Irwan (1992), pemberian nama komunitas dapat berdasarkan:

- Bentuk atau struktur utama seperti jenis dominan, bentuk hidup, atau indikator lainnya seperti hutan pinus, hutan agathis, hutan jati, atau hutan dipterocarpaceae. Dapat juga berdasarkan sifat tumbuhan dominan seperti hutan sklerofil, di Indonesia hutan ini banyak di Flores.

- Berdasarkan habitat fisik komunitas, seperti komunitas hamparan lumpur, komunitas pantai pasir, komunitas lautan dan sebagainya.

- Berdasarkan sifat-sifat atau tanda-tanda fungsional, misalnya tipe metabolisme komunitas. Berdasarkan sifat lingkungan alam seperti iklim, misalnya terdapat di daerah tropik dengan curah hujan yang tertinggi terbagi rata sepanjang tahun dan disebut hutan hujan tropik.

Di antara banyak organisme yang membentuk suatu komunitas, hanya beberapa spesies atau grup yang memperlihatkan pengendalian yang nyata dalam memfungsikan keseluruhan komunitas. Kepentingan relatif organisme dalam suatu komunitas tidak ditentukan oleh posisi taksonominya, namun oleh jumlah, ukuran, produksi dan hubungan lainnya. Tingkat kepentingan suatu spesies biasanya dinyatakan oleh indeks keunggulannya. Komunitas diberi nama dan digolongkan menurut spesies atau bentuk hidup yang dominan, habitat fisik atau kekhasan fungsional. Analisis komunitas dapat dilakukan pada setiap lokasi tertentu berdasarkan perbedaan zone atau gradien yang terdapat dalam daerah tersebut. Umumnya semakin curam gradien lingkungan, makin beragam komunitasnya karena batas yang tajam terbentuk oleh perubahan yang mendadak dalam sifat fisik lingkungannya (Michael, 1994).

Secara subjektif siapapun akan menyadari bahwa komunitas hutan itu berbeda dengan komunitas padang rumput dalam komposisi jenis dan struktur vegetasi. Agar suatu komunitas menjadi kenyataan yang objektif sebagai koleksi yang nyata dari suatu populasi, harapannya adalah bahwa kelompok populasi tertentu cenderung untuk terjadi berulang- ulang dalam lingkungan yang serupa, dan bahwa kelompok-kelompok ini berbeda dengan komunitas yang bersebelahan. Harapan ini dapat diuji analisis gradasi, yang dalam analisis ini dengan distribusi sepanjang gradasi lingkungan untuk mengetahui kisaran jenis yang membentuk komunitas (Desmukh, 1992).

Menurut Irwan (1992), bahwa di alam terdapat bermacam-macam komunitas yang secara garis besar dapat dibagi menjadi :

- komunitas aquatik

komunitas ini terdapat di laut, sungai, di danau, di paret atau di kolam.

- komunitas teresterial

yaitu sekelompok organisme yang terdapat di pekarangan, di padang rumput, di padang pasir, di halaman kantor, di kebun raya dan di sekolah.

Kebanyakan komunitas memperlihatkan pola dan struktur dalam tanan bagian komponen. Struktur suatu komunitas terdapat dalam bentuk stratifikasi tegak (misalnya komunitas hutan), zona mendatar (komunitas laut) atau dalam pola- pola fungsional yang berkaitan dengan aktivitas, jaring makanan, perilaku reproduksi, atau perilaku sosial dari organisme. Zona peralihan dari suatu komunitas dinamakan ekoton. Zona-zona ini memiliki organisme yang khas, demikian juga organisme yang ditemukan diperbatasan. Jumlah dan banyaknya spesies sering kali lebih besar dalam suatu ekoton daripada komunitas tetangganya (Michael, 1994).

Vegetasi yang terdapat di alam kebanyakan komunitas hutan mempunyai suatu pola yang jelas. Di dalam komunitas hutan, daun-daun, cabang-cabang dan bagian lain dari bermacam- macam pohon, semak dan lain-lain tumbuhan membentuk beberapa lapisan. Masing-masing lapisan memiliki produsen, konsumen dan makhluk pembusuk lain yang khas. Mikroklimat tiap lapisan pun berlainan. Hal ini dapat dipahami karena cahaya, angin, dan hujan yang diterima lapisan ini juga berbeda. Selain dari lapisan tumbuhan, permukaan tanah hutan juga merupakan tempat hidup. Pada permukaan tanah hutan terdapat daun-daun, ranting- ranting dan kayu yang membusuk. Zona-zona ini memiliki organisme yang khas, demikian juga organisme yang ditemukan diperbatasan. Jumlah dan banyaknya spesies sering kali lebih besar dalam suatu ekoton daripada komunitas tetangganya. Disini terdapat suatu komunitas yang terdiri dari mikroorganisme, lumut dan paku- pakuan. Juga terdapat bermacam-macam kumbang, kutu daun, belalang dan mungkin ular ( Sastrodinoto, 1980).

Disamping habitat tersebut, masih banyak terdapat kehidupan yang lebih kecil lagi dinamakan mikrohabitat, umpamanya celah-celah pada kulit pohon pinus, ruang antara daun-daunan, di dalam buah-buahan ,dan diantara partikel tanah. Mikrohabitat merupakan sebagian dari habitat yang luas dapat mempunyai iklim yang berlainan dari iklim habitat tadi. Didalam mikrohabitat terdapat komunitas kecil-kecil dan di dalam mikrohabitat tertentu mungkin terdapat mikroorganisme, yang tidak ada di tempat lain. Komunitas kecil ini membentuk komuntas hutan (Ewusie, 1990).

Dalam setiap komunitas setiap individu selalu dikelilingi oleh berbagai organisme, yaitu organisme satu spesies atau spesies lain. Organisme dalam suatu komunitas saling berhubungan. Hubungan antara spesies di dalam komunitas mempunyai pengaruh besar terhadap berbagai spesies yang membentuk komunitas (Sastrodinoto, 1980).

Organisme individu atau populasi yang terbentuk sebagai kumpulan populasi spesies dalam daerah tertentu, yang membentuk suatu komunitas, suatu komunitas dapat berada dalam berbagai ukuran, misalnya komunitas hutan besar, laut atau komunitas kayu busuk. Para ahli tumbuhan dan hewan memerikan komunitas secara beragam. Semua definisi komunitas memiliki pandangan tertentu secara umum. Ini adalah beberapa spesies hadir dalam daerah yang sama dimungkinkan untuk mengenali satu jenis komunitas karena kelompok spesies yang sama dengan komposisi kurang lebih tetap hadir dalam ruang dan waktu; komunitas cenderung menciptakan kestabilan dinamis. Setiap gangguan cenderung diatur oleh aturan sendiri atau homeostatis (Michael, 1994).

Klasifikasi komunitas bersifat hierarki; tingkat tertinggi adalah pembagian vegetasi dunia ke dalam kategori fisiognomi yang dapat dikenal atau biom yang distribusinya terutama diatur oleh pola iklim global. Biom tak dapat dikenal dengan komposisi jenis, sebab berbagai jenisnya biasanya dominan di berbagai dunia. Suatu klasifikasi terendah biom teresterial berdasarkan suhu dan curah hujan . Holdrige dan sejawatnya menyusun suatu skema yang lebih terinci, yang dikembangkan terutama untuk hutan tropika. Klasifikasi pelengkap yaitu klasifikasi bentuk hidup yang berhubungan dengan pola pertumbuhan dan perkembangan (Desmukh, 1992).

Menurut Irwan ( 1992), menyatakan bahwa untuk keanekaragaman komunitas perlu dipelajari aspek keanekaragaman itu dalam komunitasnya yaitu:

- mengalokasikan individu ke dalam spesiesnya.

- Menempatkan spesies tersebut ke dalam spesiesnya.

- Menentukan kepadatan relatifnya dalam habitatnya.

Menempatkan tiap individu ke dalam habitatnya dan menentukan fungsinya

Pendekatan para ahli tumbuhan dan ahli hewan terutama terhadap studi komunitas yang berbeda. Bila ahli hewan memperhatikan hubungan fungsional antara suatu komunitas, yang melibatkan tumbuhan dan hewan, para ahli tumbuhan memperhatikan struktur komunitas dan perubahan yang berlangsung dalam waktu dan ruang. Komunitas memiliki kekhasan yang dapat diukur dan dipelajari. Hal ini merupakan keragaman spesies, bentuk dan struktur pertumbuhan, keunggulan beberapa spesies dalam komunitas, jumlah relatif spesies- spesies berbeda yang membentuk komunitas, hubungan makanan dan suksesi (Michael, 1994).

Menurut Ewusie (1990), bahwa diantara ciri kualitatif yang terpenting pada komunitas adalah:

- Susunan flora dan fauna

Spesies tumbuhan dan hewan yang menyusun komunitas harus dikaji sepanjang tahun untuk menjelaskan spesies.

- Kemampuan hidup bersama

Hal ini menggambarkan hubungan ruang jasad antara individu.

- Pelapisan

Yaitu menyatakan kedudukan vertikal berbagai unsur dalam komunitas, dikenal adanya empat lapisan yaitu lapisan pepohonan, semak, terna dan lapisan dasar.

- Daya hidup

Merupakan petunjuk dan kesuburan atau tingkat spesies dalam komunitas.


Cara Kerja

Ditentukan petak areal pengamatan dan diukur 5x7 m. Petak lahan 5x7 m dibagi menjadi 7 jalur ( 1x5 m) dimana jalur III sebagai kontrol. Pada tiap jalur dibuat plot- plot kecil dengan ukuran 1x1 m dan dicatat jumlah dan jenis tumbuhan yang ada. Kemudian dibersihkan lahan pengamatan dengan menggunakan cangkul dari rumput- rumputan dan tanaman hidup di dalamnya. Setelah satu minggu diamati jenis tumbuhan yang tumbuh pada masing-masing petak 1x1m. Dicatat jumlah dan jenis tumbuhannya. Pengamatan percobaan dilakukan tiap minggu selama 4 minggu. Dicatat perubahan komposisi tumbuhan tersebut dan dibandingkan hasil pengamatan setiap minggu dengan plot kontrol. Dari data hasil pengamatan dianalisis perubahan jenis tumbuhan dari komunitas percobaan.

DAFTAR PUSTAKA

Desmukh, I.1992. Ekologi dan Biologi Tropika. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Hal: 237-242

Ewusie, J. Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Bandung: ITB. Hal: 47-82

Irwan, Z. O.1990. Prinsip-prinsip Ekologi dan Organisasi Ekosistem, Komunitas,

Dan Lingkungan. Jakarta: Bumi Aksara. Hal: 85-90

Michael, P.1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan

Laboratorium. Jakarta: UI Press. Hal: 267-272

Resosoedarmo, R. S.1989. Pengantar Ekologi. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.

Hal: 69-74

Sastrodinoto,S.1980. Biologi Umum I. PT. Gramedia.Jakarta .Hal: 52-57